Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dendam si Pahit Lidah yang Sakti Menebar Kutukan di Provinsi Jambi

Pemayung.id -- Begitulah asal muasal Serunting Sakti turun ke bumi. Bukan melalui proses biasa seperti layaknya manusia. Dialah yang dipercaya menjadi nenek moyang semua yang mendiami negeri Semidang.

Kisah itu seperti terpotong. Tidak ada cerita tentang masa kanak-kanak dan remaja Serunting Sakti bersama kedua orang tuanya. 

Tiba-tiba Westenenk meloncat dan langsung masuk pada kisah perseteruan Serunting Sakti dengan kakak istrinya atau iparnya yang bernama Aria Tebing.

Diceritakan dua bersaudara ipar itu awalnya rukun dan damai. Mereka membuka lahan persawahan yang lokasinya bersebelahan. Hanya dibatasi dengan sebatang pohon lapuk karena sudah lama tumbang.

Pohon tumbang di perbatasan inilah titik pangkal perseteruan. Soalnya, pada lahan Serunting Sakti, kulit kayu tumbang tersebut berubah menjadi emas. Sedangkan pada kayu yang sama di sebelah lahan Aria Tebing, cuma tumbuh jamur.

Aria Tebing iri dan protes kepada iparnya. Akhirnya diputuskan agar adil, pohon tumbang itu diputar arah. Harapannya agar Aria Tebing juga kebagian emas. Tapi anehnya, bagian yang tumbuh emas tetap di sebelah Serunting Sakti.

Aria Tebing dongkol dan menganggap Serunting Sakti melakukan kecurangan. Akhirnya, kedua saudara ipar itu mengadu fisik dan kesaktian, berhari-hari hingga berminggu tanpa henti.

Keanehan pun muncul. Meski pernah berkali-kali kalah dan berhasil dibunuh oleh Aria Tebing, Serunting Sakti tidak bisa mati. Dia akan hidup lagi dan terus melanjutkan pertempuran.

Ternyata Serunting Sakti memiliki ilmu ‘Alih Jiwa’. Sebenarnya yang dihadapi oleh Aria Tebing hanya tubuh Serunting Sakti. Jiwanya tidak menyatu dengan fisik, karena jiwanya sudah disembunyikan di suatu tempat rahasia. 

Suatu hari, karena kelelahan, kedua sepakat untuk beristirahat dan akan melanjutkan pertempuran esok hari.

Dalam masa ‘gencatan’ tersebut, Aria Tebing diam-diam menyusun strategi. Dia membujuk adiknya yang tidak lain adalah istri Serunting Sakti agar mencari tahu rahasia di balik ilmu alih jiwa sang suami.

Serunting yang lugu, dalam belaian dan pelukan istrinya sambil bercumbu mesra, dia pun membuka rahasia ilmunya.

Akhirnya Aria Tebing pun mengetahui bahwa Serunting menyembunyikan jiwanya di rumput alang-alang yang tinggi di sekitar lokasi pertempuran mereka. Ciri batang alang-alang tempat Serunting menitipkan jiwanya itu, ketika tiada angin, alang-alang itu bergetar aneh, seperti bilah pedang yang diayun. 

Esok harinya ketika pertempuran baru saja dimulai, Aria Tebing langsung melemparkan tombaknya ke arah alang-alang yang berayun meski tanpa angin. 

Darah pun menetes dari alang-alang tersebut. Kemudian darah itu berubah wujud menjadi seekor Harimau tapi Pincang. Konon macan pincang ini sering menampakan diri di sekitar Gunung Dempo.

Bersamaan dengan itu, Serunting terjatuh, bagian kakinya berdarah karena terluka parah. Sadarlah Serunting, dirinya sudah kalah. Rahasia sudah diketahui lawan karena pengkhianatan istrinya. 

Serunting segera melarikan diri karena malu dengan hati penuh dendam dan kesedihan. Segera Serunting ayahandanya di gunung keramat Bukit Siguntang Mahameru.

Kepada ayahandanya Puyang Panjang, Serunting menceritakan kekalahannya dalam pertempuran karena pengkhianatan sang istri. Kepada raja agung itu, Serunting memohon kekuatan dan kesaktian agar bisa membalaskan dendam.

“Baiklah. Aku akan memberikan Ananda Serunting sebuah kesaktian dan kekuatan. Tapi ketahuilah, jika kesaktian itu sudah ananda dapatkan, ilmu itu akan menjadi kutukan yaitu tidak bisa berhenti meski telah mencapai apa yang diinginkan,” kata Puyang Panjang.

Lalu setelah meludahi mulut Serunting, Puyang membimbing Serunting menuju hutan bambu yang rapat, rimbun, dan lebat. Di hutan itu, Puyang menunjuk sebatang rebung (bambu muda yang baru muncul dari tanah sekitar sejengkal) dan berkata, ‘’Bertapalah di depan rebung ini. Jangan makan dan minum sampai rebung ini menjadi bambu besar dan daunnya jatuh ke kepalamu!”

Hari demi hari, minggu pun berlalu, bulan demi bulan sudah berjalan, Serunting tetap duduk diam tak bergeming dalam tapanya. 

Dua tahun sudah terlewati, rebung pun sudah tumbuh menjadi bambu, besar dan tinggi. Suatu ketika, daun bambu jatuh tepat di kepala Serunting. Pertanda, tapanya sudah selesai.

Serunting bangkit menyelesaikan tapanya dan kembali menemui raja agung. ‘’Tapa mu sudah selesai dan kamu berhasil. Sekarang engkau orang sakti. Apapun yang kau ucapkan, akan menjadi nyata. Sekarang namamu adalah Pahit Lidah,’’ demikian sabda Puyang.

Setelah berkemas dan menyiapkan perbekalan, Serunting berpamitan dengan Puyang. Dia berangkat untuk kembali ke kampung dan membalas sakit hati serta kekalahannya tempo dulu. 

Tapi ada keraguan dalam hatinya. ‘’Benarkah aku ini sakti…,’’ demikian Serunting membatin di setiap kali kakinya melangkah. 

Jika kesaktiannya tidak terbukti, sungguh memalukan untuk kembali ke kampung. Tentu akan menjadi tertawaan banyak orang. Dalam keraguan itu, Serunting lalu membelokkan langkah tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Serunting pergi berkelana untuk memastikan bahwa dirinya memang sakti tak tertandingi. 

Berjalan terus keluar masuk hutan. Kadang mengikuti sungai, menuruni lembah, mendaki tebing, menuruti kehendak kakinya mau melangkah. Suatu hari, Serunting bertemu sebuah danau besar. ‘Ranau’ namanya yang termasuk dalam suatu daerah bernama Krui. Krui saat ini masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Di tepi danau banyak tumbuh ‘Tebu’. Serunting ingin menguji kesaktiannya. Sambil berbisik pelan dia menyebutkan, ‘’Kalau Serunting itu sakti, maka jadilah kau tibarau…" 

Dan tiba-tiba semua batang Tebu di tepi danau tadi seketika berubah menjadi Tibarau. Sampai saat ini, masih banyak Tibarau tumbuh dekat Danau Ranau.

Tibarau bentuknya mirip Tebu. Bedanya, Tebu mengandung sari berasa manis dan harum. Sedangkan Tibarau, cuma gelagah yang keras dengan empulurnya yang kering.

Sekarang sadarlah Serunting, dirinya memang sudah sakti. Niatnya kembali ke kampung seketika bangkit. Amarah pun berkobar ketika mengingat pengkhianatan sang istri dan kekalahannya di medan pertempuran.

Serunting bangkit menuju kampung halamanya. Kadang berlari sekencang angin, kadang berjalan pelan gontai santai. Satu tekad, siapapun yang menghalangi dan merintangi jalannya akan dibinasakan.

Dalam perjalanan, Serunting bertemu rombongan yang sedang membawa pengantin wanita menuju danau untuk ritual mandi. 

Serunting Sakti menyapa rombongan tersebut, “Sedang apa yang kalian di sini?” Tiga kali dia menyapa namun tak seorangpun peduli. Malah ada yang mengusir dan memakinya karena dianggap mengganggu rombongan pengantin.

Serunting marah dan keluarlah ucapan saktinya, ’’Kalian semua batu karena tidak punya perasaan!”

Cring.. Rombongan pengantin itu semuanya menjadi batu. Dan itulah sebab banyak patung batu di tepi Danau Ranau mirip rombongan orang dengan pengantin.

Lalu, Serunting segera bergegas pergi meninggalkan rombongan batu tersebut menuju kampungnya. Dia harus kecewa karena mantan iparnya Aria Tebing sudah mengetahui kepulangan Serunting dan mendengarkan akan kesaktiannya. Mereka semua sudah pergi meninggalkan kampung menghilang ke dalam hutan tanpa jejak. 

Kekecewaan Serunting menggiring dia kembali pergi mengembara tanpa tujuan. Dari hulu ke hilir, utara ke selatan, barat ke timur semua dijelajahinya.

Di hulu Sungai Jambi, Serunting Sakti yang bergelar si Pahit Lidah juga menebar kutukan. Ditemukan banyak patung dan bongkahan batu mirip manusia sebagai bukti kesaktiannya.

Pokoknya tiap kali, dia tersinggung atau tidak menyukai pertanyaan atau sapaannya tidak dijawab akan membangkitkan nafsu dan amarahnya untuk mengeluarkan kutukan. 

Tak jauh dari Muara Payang, di kaki Bukit Barisan,  ia bertemu dengan seorang gadis desa dan bertanya jalan menuju desa. Muara Payang saat ini berada dalam wilayah Provinsi Bengkulu.

Gadis itu menjawab dengan candaan. ‘’Na itu.. jalannya ada di bawah kakimu,” kata gadis itu. Kontan Serunting tersinggung dan gadis itu dikutuk jadi batu. Lengkap dengan kalung di leher, cincin di jari, dan semuanya tampak begitu jelas.

Di Muara Rambang, Pahit Lidah mengutuk sekelompok monyet yang seolah mengejek dan menertawainya menjadi batu. Di Karang Penyabungan, Serunting meminta makan kepada sekelompok orang yang sedang mengadu ayam. Tapi bukan makanan yang didapat, malah kata kasar dan makian. Akibatnya, semua orang dikutuk menjadi batu. Kedua tempat itu, saat ini dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Sebenarnya Serunting tidak jahat. Tiap kali dia mengeluarkan kutukan dan menjadi kenyataan, dia selalu menyesalinya dan menangisnya. 

Ucapan Serunting Sakti, tidak selalu berupa kutukan. Misalnya, di Bukit Serut yang tandus, tempat asal muasal Sungai Seluma, diubahnya menjadi gunung dengan tanah yang subur. Seluma saat ini berada dalam wilayah Provinsi Bengkulu.

Di Karang Agung, ada sepasang orang tua yang sudah ompong dan botak tapi tidak memiliki anak, berkat Serunting Sakti, bisa memiliki anak. Konon itulah nenek moyang suku Barra Sakti.

Kedigdayaan Serunting Sakti semakin tersohor karena tidak ada yang mampu menandinginya. Setiap terdengar ada pendekar sakti, pasti diajak adu kesaktian dan berakhir dengan kemenangan Serunting Sakti.

Suatu kali, terdengar ada pendekar sakti bernama Sepapal . Sepapal mampu membuat danau dengan sakali garuk tanah. Garukan tanah itu juga bisa dipakai untuk membendung sungai. Tanah yang digaruknya juga bisa dilemparkan kemana dia suka dan akan berubah menjadi bukit.

Di muara Sungai Padang Guci, dia mencabut sebuah gunung kecil, bukit tempat pasanggrahan, kemudian dia melemparkan sebagian gunung itu untuk membendung sungai. 

Tapi kesaktian itu tidak cukup menguatkannya untuk menghadapi Serunting Sakti. Sepapal yang mengetahui Serunting Sakti mencari dirinya, memilih menghindar meski tetap diburu-buru. Untuk menghambat langkah Serunting Sakti, di banyak tempat Sepapal menggaruk tanah dan membuat danau serta bukit-bukit, diantaranya di Lubuk Rial.

Di muara Sungai Manna, Sepapal kembali membendung sungai dengan garukan tanah. Tapi kali ini, dia gagal. Tiba-tiba, si Pahit Lidah sudah berada di belakangnya.

Pertempuran dua pendekar tak terelakkan. Saring serang, saling pukul, tak henti-hentinya. Belum ada tanda-tanda, siapa akan menang dan kalah. Tapi, tiba-tiba, si Pahit Lidah mundur dan menghilang dari pertempuran. Ternyata dia hilang keinginan untuk bertempur setelah mendapat kabar tentang kemunculan musuh yang juga mantan iparnya si Aria Tebing.

Dia ingin segera mencari Aria Tebing untuk membalas dendam yang belum lunas. Pengembaraan berlanjut dalam perasaan amarah yang begitu memuncak. (bersambung)


Sumber: Rakyatbengkulu.com

Posting Komentar untuk "Dendam si Pahit Lidah yang Sakti Menebar Kutukan di Provinsi Jambi"